Equityworld Futures Medan – Menyoroti Krisis 1997/98: Seberapa Sulit Menyelamatkan Rupiah dari Level 17.000? | Equityworld EWF Medan yang menjadi perhatian pelaku pasar hari ini. Kami sajikan data dan prospeknya.
Jakarta, PT Equityworld Futures – Nilai tukar rupiah kini sudah bergerak di atas level Rp17.000 per dolar Amerika Serikat (AS). Melansir data Refinitiv, pada perdagangan intraday Jumat (10/4/2026), nilai tukar rupiah sempat menembus level terlemah sepanjang masa terhadap dolar AS di Rp17.115/US$ atau terdepresiasi sekitar 0,21%. Level ini bukan sekadar angka psikologis, tetapi juga mengingatkan kita pada salah satu fase paling berat dalam sejarah ekonomi Indonesia ketika tekanan terhadap rupiah ikut menjadi pintu masuk krisis yang lebih besar. // Meski kondisi saat ini berbeda dengan 1998, pelemahan rupiah tetap tidak bisa dipandang remeh.
Pengalaman masa lalu menunjukkan tekanan pada nilai tukar dapat menjalar ke berbagai sisi, mulai dari inflasi, beban impor, biaya utang, hingga kepercayaan pelaku pasar terhadap arah kebijakan ekonomi nasional. pelemahan rupiah saat ini tidak cukup dibaca sebagai gejolak harian di pasar keuangan. Ada pelajaran penting dari sejarah yang menunjukkan bahwa saat tekanan kurs membesar, respons pemerintah dan bank sentral harus cepat, terukur, dan konsisten agar pelemahan tidak berkembang menjadi krisis yang lebih dalam. Kembali ke periode 1997-1998, saat Asia dilanda krisis keuangan besar yang kemudian menjalar cepat ke berbagai negara, termasuk Indonesia.
Krisis keuangan saat itu pada dasarnya ditandai oleh empat persoalan utama, yakni kelangkaan devisa di Thailand, Indonesia, Korea Selatan, dan sejumlah negara Asia lain yang membuat nilai tukar serta pasar saham jatuh tajam. sektor keuangan dan mekanisme alokasi modal di negara-negara terdampak juga belum berkembang memadai. Krisis tersebut juga memberi dampak besar terhadap Amerika Serikat dan perekonomian dunia, serta mendorong keterlibatan Dana Moneter Internasional (IMF) dalam penanganannya. Besarnya dampak krisis Asia pada saat itu juga tidak bisa dilepaskan dari tingginya paparan perbankan internasional terhadap negara-negara yang tengah bermasalah.
Kenapa ini penting?
Ketika tekanan ekonomi membesar di Asia, negara-negara maju pun ikut mencermati risiko yang dihadapi sektor keuangan mereka, terutama karena bank-bank besar mereka memiliki pinjaman dalam jumlah besar ke negara-negara Asia. // Pada akhir 1996, bank-bank di Amerika Serikat (AS) tercatat memiliki pinjaman outstanding sebesar US$29,1 miliar kepada enam negara Asia, yakni Indonesia, Korea Selatan, Malaysia, Filipina, Taiwan, dan Thailand. Nilai outstanding ini pada dasarnya menggambarkan total pinjaman yang masih berjalan dan belum lunas. ketika krisis mulai muncul di Asia, negara-negara maju juga ikut mencemaskan dampaknya terhadap sektor keuangan mereka.
Masalahnya, jika negara-negara peminjam mengalami tekanan berat, maka kemampuan mereka untuk membayar utang juga ikut terancam.
Pergerakan Nilai Tukar: Rupiah masih dipengaruhi oleh data ekonomi AS dan harga komoditas ekspor Indonesia. Level psikologis Rp15.500 per dolar AS menjadi support penting yang perlu dipertahankan.
Sentimen Pasar yang Mempengaruhi
Dari sisi global, pelaku pasar masih mencermati data ekonomi AS dan kebijakan bank-bank sentral utama. Sementara dari domestik, aliran modal asing dan data neraca perdagangan menjadi katalis yang patut diperhatikan.
Tim Analis Equityworld Futures Medan mencatat beberapa faktor teknis yang juga berperan dalam pergerakan hari ini, di antaranya adalah level support-resistance terdekat serta pola volume perdagangan.
Pandangan Teknikal Jangka Pendek
Berdasarkan pergerakan harga terkini, berikut adalah level-level penting yang perlu dicermati:
- Support 1: Level terdekat yang berpotensi menahan pelemahan
- Support 2: Level psikologis berikutnya jika support 1 tertembus
- Resistance 1: Target kenaikan terdekat dalam jangka pendek
- Resistance 2: Level berikutnya jika momentum penguatan berlanjut
Indikator Moving Average 50 hari masih berada di atas MA 200 hari (Golden Cross) yang mengindikasikan tren bullish jangka panjang masih terjaga. Namun trader perlu mewaspadai potensi koreksi jika terjadi jenuh beli.
Informasi ini disusun untuk menambah wawasan pasar. Selalu lakukan riset mandiri sebelum mengambil keputusan investasi.
Informasi: Artikel ini ditulis oleh Tim Riset Equityworld Futures berdasarkan data pasar dan pemberitaan terbuka. Bukan rekomendasi investasi.
Layanan Resmi PT Equityworld Futures:
* Trading futures berisiko tinggi. Pastikan Anda memahami sepenuhnya risiko yang ada.
📌 Baca Juga Artikel Terkait:
- → Inflasi Tahunan Februari 2026 Capai 4,76 Persen | Equityworld EWF Medan
- → Video: IHSG Anjlok Lagi hingga Iran Ancam Blokade Selat Hormuz | Equityworld EWF Medan
- → Kala IHSG Ambruk, Asing Terciduk Borong 10 Saham Ini | Equityworld EWF Medan
