0 0
Read Time:3 Minute, 50 Second

Equityworld Futures Medan – Simulasi Dolar Rp17.000 dan Harga Minyak US$84, APBN Tekor Berapa? | Equityworld EWF Medan. Berikut ulasan selengkapnya untuk Anda para trader dan investor.

Jakarta, PT Equityworld Futures – Pelemahan rupiah yang menembus level Rp 17.000 per dolar AS serta lonjakan harga minyak dunia menyebabkan kekhawatiran akan kesehatan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Kedua faktor tersebut, dinilai berpotensi melebar defisit fiskal pemerintah yang dijaga untuk tetap berada di bawah level 3% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Mohammad Faisal Direktur CORE Indonesia menjelaskan pihaknya pernah melakukan simulasi terhadap dampak gejolak kurs dan harga minyak terhadap fiskal pemerintah. Menurutnya, ketika isu stabilitas ekonomi menjadi sorotan, salah satu aspek yang harus dicermati adalah tata kelola fiskal. “Pernah kami lakukan untuk simulasi saat bahasa stabilitas yang jadi sorotan, tata kelola fiskal,” ujar Faisal dalam acara Central Banking Forum, dengan tema Ketahanan Ekonomi Indonesia dalam Menghadapi Volatilitas Nilai Tukar Global, di Jakarta, Senin (13/4/2026).

Dalam simulasinya, tambahan beban subsidi energi menjadi salah satu pendorong pelebaran defisit. “Kalau harga minyak US$84 per barrel, atau lebih dgn nilai tukar Rp16.800-17.000/US$ subsidi energi yg dibutuhkan lebih dari Rp 100 triliun, kalau dipresentasikan PDB, sebetulnya sudah tembus 3%,” ujarnya. “Sehingga tata kelola fiskal, jadi tantangan yang sangat besar dan dihindari agar tdk sampai 3%,” ujarnya. Dalam presentasinya, Faisal menjelaskan pelebaran defisit dapat berubah dalam beberapa skenario harga minyak dunia dan nilai tukar rupiah terhadap dolar akibat ketidakpastian global dampak peran Amerika Serikat dan Iran. Dalam skenario kurs rupiah menembus Rp 17.000/US$ dengan harga minyak berada di US$70-75 per barel sepanjang tahun, defisit diperkirakan berada di level 2,79% terhadap PDB.

Sementara untuk skenario kurs rupiah RP 17.000/US$ dengan level harga minyak US$84-90 per barrel defisit dapat melebar ke level 3,13%. Di sisi lain, Kementerian Keuangan menegaskan bahwa pemerintah masih menggunakan asumsi harga minyak Indonesian Crude Price (ICP) sebagai acuan dalam perhitungan fiskal.

Bagaimana cara kerjanya?

Direktur Strategi Stabilisasi Ekonomi DJSEF Kementerian Keuangan, Noor Faisal Achmad menjelaskan saat ini berdasarkan pantauan terkini, harga masih berada di sekitar US$ 78 per barel. “Makanya tadi kita lihat pantauan terkini masih di 78, walaupun tadi berikutnya adalah menggunakannya mana, gitu kan. Kita masih pake ICP, jadi komunikasi kita dengan kementerian ESDM, SKK Migas, ini yang kita gunakan.

Pasti ada adjustment dengan brent dan lain-lainnya, ini yang kita gunakan asumsi dasar,” ujar Noor Faisal dalam acara Central Banking Forum, dengan tema Ketahanan Ekonomi Indonesia dalam Menghadapi Volatilitas Nilai Tukar Global, di Jakarta, Senin (13/4/2026). Dirinya menambahkan, pemerintah tetap membuka ruang penyesuaian apabila perkembangan harga minyak global bergerak jauh dari asumsi awal. “Tapi kalaupun nanti ada, ya pasti kalau gitu masih ada adjustmentnya. Walaupun tadi ada yang spesifik disampaikan, mungkin nanti kami lihat kembali bagaimana pengaruhnya” ujarnya.

Pergerakan Nilai Tukar: Rupiah masih dipengaruhi oleh data ekonomi AS dan harga komoditas ekspor Indonesia. Level psikologis Rp15.500 per dolar AS menjadi support penting yang perlu dipertahankan.

Komoditas: Pergerakan harga komoditas ini berkorelasi dengan ekspektasi suku bunga global dan pertumbuhan ekonomi China. Untuk jangka pendek, trader dapat memanfaatkan volatilitas dengan manajemen risiko ketat.

Sentimen Pasar yang Mempengaruhi

Dari sisi global, pelaku pasar masih mencermati data ekonomi AS dan kebijakan bank-bank sentral utama. Sementara dari domestik, aliran modal asing dan data neraca perdagangan menjadi katalis yang patut diperhatikan.

Tim Analis Equityworld Futures Medan mencatat beberapa faktor teknis yang juga berperan dalam pergerakan hari ini, di antaranya adalah level support-resistance terdekat serta pola volume perdagangan.

Pandangan Teknikal Jangka Pendek

Berdasarkan pergerakan harga terkini, berikut adalah level-level penting yang perlu dicermati:

  • Support 1: Level terdekat yang berpotensi menahan pelemahan
  • Support 2: Level psikologis berikutnya jika support 1 tertembus
  • Resistance 1: Target kenaikan terdekat dalam jangka pendek
  • Resistance 2: Level berikutnya jika momentum penguatan berlanjut

Indikator Moving Average 50 hari masih berada di atas MA 200 hari (Golden Cross) yang mengindikasikan tren bullish jangka panjang masih terjaga. Namun trader perlu mewaspadai potensi koreksi jika terjadi jenuh beli.

Kinerja masa lalu tidak menjamin hasil di masa depan. Trading futures dan forex berisiko tinggi. Pastikan Anda memahami risiko sebelum bertransaksi.


Informasi: Artikel ini ditulis oleh Tim Riset Equityworld Futures berdasarkan data pasar dan pemberitaan terbuka. Bukan rekomendasi investasi.

Layanan Resmi PT Equityworld Futures:

* Trading futures berisiko tinggi. Pastikan Anda memahami sepenuhnya risiko yang ada.

📌 Baca Juga Artikel Terkait:

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

By

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *