Equityworld Futures Medan – Update pasar: Raksasa Senjata Israel Pesta Pora di Tengah Perang, Saham Meledak | Equityworld EWF Medan. Berikut pembahasan mendalam dari Tim Analis kami.
Jakarta, PT Equityworld Futures – Pecahnya perang terbuka berskala penuh antara aliansi Amerika Serikat (AS)-Israel melawan Iran yang dimulai pada Sabtu, 28 Februari 2026 lalu telah mengubah peta geopolitik dan dinamika pasar global secara drastis. Serangan udara gabungan dari AS dan Israel yang menargetkan pusat kepemimpinan serta fasilitas nuklir Iran, langsung memicu serangan balasan masif. Hujan ribuan drone dan rudal balistik Iran yang diarahkan ke wilayah Israel, termasuk kawasan Tel Aviv dan Yerusalem, serta ke berbagai pangkalan militer AS di Timur Tengah, memberikan sentimen reaktif pada pasar saham. Di Bursa Efek Tel Aviv (TASE), emiten yang beroperasi di sektor pertahanan dan teknologi militer mencatatkan lonjakan valuasi yang sangat tajam seiring memuncaknya skala peperangan di awal Maret ini. // Sepekan terakhir menjadi periode yang sangat krusial bagi pasar saham pertahanan Israel. Rentetan serangan rudal balistik membuat sistem pertahanan udara dan logistik tempur bekerja dalam kapasitas maksimal.
Merespons kondisi ini, saham Elbit Systems Ltd (ESLT), sebagai kontraktor pertahanan dan elektronik militer terbesar Israel, melesat 16,22% hanya dalam rentang satu minggu, bergerak dari posisi 239.890 Jumat (27/2/2026) menuju 278.800 pada penutupan 6 Maret 2026. Kondisi penguatan yang identik dialami oleh penyedia perangkat keras tempur lainnya. Israel Shipyards Industries (ISHI) yang memproduksi armada laut taktis dan Bet Shemesh Engines (BSEN) di sektor kedirgantaraan, masing-masing melonjak 12,63% dan 12,22% secara mingguan.
Lonjakan ini merefleksikan kepastian masuknya kontrak skala besar dari pemerintah untuk memenuhi kebutuhan darurat militer sehingga potensial earnings dari emiten tersebut diproyeksi akan melonjak signifikan. Adapun pada pergerakan harian terakhir (5-6 Maret), seiring dengan intensitas saling serang yang sedikit berfluktuasi, harga saham mengalami konsolidasi wajar akibat profit taking. ESLT masih mampu naik tipis 1,05%, sementara BSEN terkoreksi 3,60%.
Sentimen Pasar yang Mempengaruhi
Dari sisi global, pelaku pasar masih mencermati data ekonomi AS dan kebijakan bank-bank sentral utama. Sementara dari domestik, aliran modal asing dan data neraca perdagangan menjadi katalis yang patut diperhatikan.
Tim Analis Equityworld Futures Medan mencatat beberapa faktor teknis yang juga berperan dalam pergerakan hari ini, di antaranya adalah level support-resistance terdekat serta pola volume perdagangan.
Sektor perbankan masih menjadi penggerak utama IHSG mengingat bobotnya yang besar. Namun sektor teknologi dan properti mulai menunjukkan minat beli dari investor asing.
Pandangan Teknikal Jangka Pendek
Berdasarkan pergerakan harga terkini, berikut adalah level-level penting yang perlu dicermati:
- Support 1: Level terdekat yang berpotensi menahan pelemahan
- Support 2: Level psikologis berikutnya jika support 1 tertembus
- Resistance 1: Target kenaikan terdekat dalam jangka pendek
- Resistance 2: Level berikutnya jika momentum penguatan berlanjut
Indikator Moving Average 50 hari masih berada di atas MA 200 hari (Golden Cross) yang mengindikasikan tren bullish jangka panjang masih terjaga. Namun trader perlu mewaspadai potensi koreksi jika terjadi jenuh beli.
Informasi ini disusun untuk menambah wawasan pasar. Selalu lakukan riset mandiri sebelum mengambil keputusan investasi.
Informasi: Artikel ini ditulis oleh Tim Riset Equityworld Futures berdasarkan data pasar dan pemberitaan terbuka. Bukan rekomendasi investasi.
Layanan Resmi PT Equityworld Futures:
* Trading futures berisiko tinggi. Pastikan Anda memahami sepenuhnya risiko yang ada.
📌 Baca Juga Artikel Terkait:
- → IHSG Ambruk 1,62 Persen ke 7.585 Akhiri Pekan Ini | EQUITYWORLD SEMARANG | Equityworld EWF Medan
- → Elnusa (ELSA) Cetak Laba Rp718 Miliar Sepanjang 2025 | Equityworld EWF Medan
- → Equityworld EWF Medan | BTN Perluas Layanan Wealth Management, Targetkan Laba Tembus Rp 4 Triliun pada 2026
